“Be a Future Leader”: Leadership Camp GENBI 2026 di BatamMenempa Mahasiswa Penerima Beasiswa BI

Padangsidimpuan, 3 November 2026 — Leadership Camp GENBI 2026 digelar di Batam, Kepulauan Riau, pada 26 hingga 31 Oktober 2026. Kegiatan ini diperuntukkan bagi mahasiswa penerima beasiswa Bank Indonesia yang tergabung dalam komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI), dan dirancang sebagai ruang pembentukan kepemimpinan yang tidak berhenti pada teori.

Dasar pelaksanaannya tertuang dalam Surat Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sibolga Nomor 28/726/Sbg/Srt/B tanggal 16 Oktober 2026 tentang Undangan Pelaksanaan Kegiatan Leadership Camp GENBI 2026. Surat itu kemudian ditindaklanjuti dengan penerbitan surat tugas tertanggal 19 Oktober 2026 oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN SYAHADA) Padangsidimpuan.

Tema yang diangkat kali ini tegas: “Be a Future Leader: Memimpin Perubahan Berkelanjutan dan Inklusif Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema tersebut menempatkan peserta bukan sekadar sebagai penerima materi, melainkan sebagai calon pemimpin yang diharapkan mampu mengelola perubahan — dan memastikan perubahan itu tidak meninggalkan siapa pun. Lokasi kegiatan beralamat di Jl. Engku Putri No. 1, Batam Centre, Kota Batam, Kepulauan Riau 29432. Batam dipilih bukan tanpa alasan: sebagai kota industri dan jendela ekonomi Indonesia di kawasan perbatasan, Batam menghadirkan konteks nyata tentang pertumbuhan, mobilitas penduduk, dan tantangan inklusi yang jarang ditemukan di ruang kelas.

Rentang Enam Hari: Antara Surat Tugas dan Rundown Surat tugas menyebut kegiatan berlangsung 26 sampai 31 Oktober 2026. Sementara itu, dokumen agenda internal yang menjadi acuan panitia memuat rangkaian sesi yang lebih ringkas: kedatangan dan check-in hotel pada 27 Oktober pukul 15.00, sesi materi pada 28 dan 29 Oktober, serta kepulangan pada 30 Oktober pukul 10.00–12.00.

Perbedaan ini wajar dalam praktik kegiatan berskala nasional. Rentang 26–31 Oktober adalah periode penugasan resmi — mencakup perjalanan berangkat, pelaksanaan, dan perjalanan pulang. Adapun rundown panitia hanya mengatur bagian yang berlangsung di lokasi kegiatan. Dengan pembacaan itu, 26 Oktober dan 31 Oktober lebih tepat dipahami sebagai hari perjalanan, bukan hari sesi. Konsekuensinya, beban yang ditanggung peserta tidak hanya terlihat di panggung. Perjalanan menuju Batam, penyesuaian diri dengan jadwal padat, dan perjalanan pulang menjadi bagian dari pengalaman yang diuji. Bagi peserta dari Sumatera Utara, perpindahan ke Kepulauan Riau menuntut stamina tersendiri — sesuatu yang jarang masuk dalam perhitungan panitia, tetapi nyata dirasakan peserta.

Dari Kebijakan ke Narasi

Tiga Sesi Policy Insight dalam Satu Hari Inti hari kedua adalah tiga sesi Policy Insight yang berurutan, masing-masing berdurasi 90 menit. Sesi pertama, pukul 08.30 hingga 10.00, menghadirkan DKEM dan DKSP. Sesi kedua, pukul 10.20 hingga 11.50, menghadirkan DKMP dan DEIH. Sesi ketiga, pukul 13.20 hingga 14.50, menghadirkan DR bersama KPwBI Kep. Riau. Pola ini menunjukkan bahwa peserta tidak diperkenalkan pada kebijakan secara serampangan. Ada tiga lapis yang dibangun: kebijakan ekonomi dan moneter, kebijakan di ranah lain yang menjadi kewenangan unit kerja terkait, serta perspektif riset dan implementasi di tingkat daerah melalui kantor perwakilan. Dengan kata lain, peserta diajak memahami bahwa kebijakan bank sentral bukan dokumen yang berhenti di Jakarta, melainkan sesuatu yang bekerja hingga ke ruang hidup masyarakat di daerah. Dalam kerangka tema “Be a Future Leader”, sesi-sesi ini punya fungsi yang jelas: pemimpin perubahan tidak bisa berbicara tentang masa depan tanpa memahami cara kerja kebijakan yang membentuknya hari ini. Nilai tukar, inflasi, sistem pembayaran, dan stabilitas keuangan bukanlah istilah teknis yang jauh dari mahasiswa — semuanya bersinggungan langsung dengan harga di pasar, biaya kuliah, dan lapangan kerja yang akan mereka masuki. Masing-masing sesi dipisahkan jeda yang cukup. Coffee break 20 menit disediakan pukul 10.00 dan pukul 16.20, sementara ISHOMA diberikan pukul 11.50 hingga 13.20 — satu setengah jam yang cukup untuk istirahat, sholat, dan makan. Pengelolaan jeda seperti ini kerap luput dari perhatian, padahal ia menentukan apakah peserta masih mampu mencerna materi terakhir dengan kualitas yang sama seperti materi pertama.

Ketika Kebijakan Harus Dikisahkan Pukul 14.50, nada kegiatan bergeser dari analitis ke reflektif. Sesi “Leadership Insight and Motivational Talk” bersama Agnes Rahajeng mengambil panggung selama 90 menit. Sesi semacam ini biasanya menjadi Leadership Camp 2026 — Naskah Berita · halaman 5 ruang bagi peserta untuk menghubungkan pengetahuan teknis dengan pengalaman hidup: bagaimana kepemimpinan diuji bukan di ruang rapat, tetapi dalam keputusan-keputusan kecil yang jarang tercatat. Selepas coffee break, pukul 16.40 hingga 18.10, peserta masuk ke “Workshop penulisan artikel populer di media” bersama Pak Harry Baskoro. Penempatan sesi ini tepat setelah sesi kebijakan bukanlah kebetulan. Sepanjang hari peserta telah menerima banyak informasi teknis; kini mereka dilatih untuk menerjemahkannya menjadi tulisan yang bisa dibaca publik luas.

Dua Fase yang Mengubah Kelompok Menjadi Tim

Pukul 10.45, sesi “Collaboration Team Building: Phase 1” dimulai bersama tim Belajarlagi. Sesi ini berlangsung 105 menit, lalu dilanjutkan ISHOMA pukul 12.30. Pukul 13.30, Phase 2 dibuka dengan durasi dua jam hingga 15.30. Membagi team building menjadi dua fase adalah pilihan yang jarang diambil. Biasanya kegiatan semacam ini diselesaikan dalam satu blok. Dengan dua fase yang dipisahkan jeda, peserta mendapat kesempatan mencerna pengalaman fase pertama, menyadari pola kerja kelompoknya, lalu memperbaikinya di fase kedua. Pembelajaran menjadi berlapis, bukan sekali jadi.

Membaca Tema: “Memimpin Perubahan yang Berkelanjutan dan Inklusif”

Tema Leadership Camp GENBI 2026 memuat tiga kata kunci yang layak dibedah: perubahan, berkelanjutan, dan inklusif. Ketiganya bukan pilihan kata yang kebetulan. Perubahan menempatkan pemimpin sebagai penggerak, bukan penjaga status quo. Dalam konteks mahasiswa, perubahan bisa berarti hal yang sangat dekat: cara organisasi mengambil keputusan, cara program kerja disusun, atau cara anggota baru diperlakukan. Berkelanjutan menambahkan syarat yang lebih berat. Perubahan yang baik harus bertahan setelah penggagasnya lulus. Ini menuntut sistem, dokumentasi, dan kaderisasi — bukan sekadar semangat sesaat. Di sinilah pentingnya peserta memahami kebijakan: kebijakan adalah bentuk paling konkret dari upaya membuat perubahan bertahan lama. Inklusif menutup rangkaian itu dengan pertanyaan: siapa yang ikut menikmati perubahan? Pemimpin yang inklusif tidak hanya mendengar suara mayoritas, tetapi memastikan mereka yang paling terdampak punya tempat dalam percakapan. Ketiganya kemudian diarahkan pada satu tujuan besar: Indonesia Emas 2045, momentum ketika Indonesia memasuki usia satu abad. Bagi mahasiswa yang hadir di Batam, 2045 bukanlah angka jauh. Mereka adalah generasi yang akan memimpin tepat pada periode itu.

Membaca Pola Rundown: Belajar dari Cara Panitia Menyusun Waktu Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari struktur agenda Leadership Camp GENBI 2026.

Pertama, ada alur dari diri sendiri menuju orang lain. Hari pertama berbicara tentang kepemimpinan personal. Hari kedua tentang wawasan kebijakan dan kemampuan menyampaikan gagasan. Hari ketiga tentang kerja sama dan warisan. Urutan ini mengikuti logika yang sehat: seseorang tidak bisa memimpin kelompok sebelum memahami dirinya, dan tidak bisa berbicara tentang warisan sebelum belajar bekerja bersama.